Jumat, 23 Desember 2011

KESALAHAN UMUM YANG SERING DILAKUKAN PARA USAHAWAN


Mengapa bisnis anda bisa gagal. Hanya ada satu alasan mengapa kita bisa gagal. Karena ada orang lain yang melakukannya lebih baik dari kita. Mereka mengetahui caranya dan mau menerapkannya. Itulah alasannya.
Menjalankan bisnis secara baik dituntut banyak persyaratan. Selain pengetahuan yang berhubungan dengan akal, dituntut juga untuk pandai beradaptasi denagn lingkungan bisnis itu sendiri. Harus peka mengenai pasar dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pasar.
Berikut ini merupakan kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan para usahawan yang tanpa mereka sadari telah membuat usaha mereka gagal.

  1. TIDAK MEMINTA MAAF Untuk dapat melakukan bisnis lebih baik, kita harus meminta maaf. Sekecil apapun kelalaian atau kesalahan kita, jangan anggap remeh kesalahan kecil karena bisa jadi bagi kita kecil tapi bagi konsumen merupakan perkara besar. Jangan biarkan ada kabar negatif merebak ke konsumen apalagi sampai ke telinga pesaing Anda yang sudah pasti peka. Jangan biarkan ada peluang bagi orang lain untuk menyaingi usaha Anda.Jadi, meminta maaf adalah wajib dan harus.

  1. FEEDBACK Feedback adalah umpan balik. cara selanjutnya untuk dapat melakukan bisnis lebih baik adalh menberi konsumen kesempatan untuk melakukan umpan balik mengenai usaha atau produk kita. Bila perlu berikan rewardatau hadiah atas saran-saran serta keluhan mereka. Ini penting sekali tetapi banyak orang yang melupakannya. Perusahaan yang dijalankan dengan baik selalu menyediakan kotak saran, email atau saluran telepon khusus untuk menangani keluhan. Tetapi semua ini bukan hanya sekedar formalitas saja melainkan benar-benar dimanfaatkan sesuai misinya. Kita harus menyadari meski semua sarana mendapatkan masukan sudah tersedia, ternyata tidak semua konsumen akan dan mau memanfaatkannya. Jika mereka tidak mau memanfaatkannya, berarti usaha Anda bukan menjadi bagian dari hidup mereka. Mereka bisa dengan mudah pindah ke pesaing lainnya. Tanpa adanya feedback dari konsumen, kita tidak bisa meningkatkan citra, pelayanan, atau produk kita. Bukankah perusahaan kita didirikan untuk memberikan yang terbaik untuk konsumen, menarik mereka untuk kembali dan kembali serta mengajak rekan-rekan mereka. Oleh karena itu, keluhan atau kritik merupakan sebuah input positif.

  1. TERLALU MENDENGARKAN KONSUMEN Ada satu pengecualian disini. Semua keluhan atau komplain harus kita dengarkan sebaik mungkin tetapi terlalu mendengarkan konsumen justru kontraproduktif,  karena kita tidak bisa menyenangkan semua konsumen. Kita harus menetapkan standar organisasi perusahaan termasuk standar pelayanan. Kita harus membuka duri dan tidak bisa memutlakkan standar yang sudah kita tetapkan. Kita harus bersedia untuk berbenah yang berarti bersedia menerima masukan dari konsumen, tetapi kita tidak wajib memenuhi semua keinginan konsumen.

  1. KARYAWAN TIDAK KOMPETEN Mungkin ini yang paling sulit dilakukan. Karyawan merupakan aset perusahaan. Karyawan sebenarnya lebih penting daripada modal bahkan konsumen jika harus diurutkan, urutannya: karyawan, modal baru konsumen. Kepuasan konsumen tidak akan terjadi tanpa kepuasan karyawan yang bekerja di tempat Anda. Karena karyawan merupakan aset berharga , sudah tentu kita harus menjaganya baik-baik dengan memberikan gaji dan lingkungan kerja yang layak. Tanpa mereka sebagai pengusaha kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun demikian, untuk mendapatkan karyawan yang benar-benar kompeten memang sulit sekali. Yang berpenampilan menarik banyak, yang berpendidikan cukup banyak, yang pandai di bidangnya banyak, tetapi yang jujur dan berintegritas ini yang sulit didapat. Jangan biarkan karyawan Anda menjadi sumber malapetaka usaha Anda, mereka justru  membobol usaha Anda. Karena itu jika Anda gagal mendapatkan karyawan yang kompeten sedenikian rupa sesuai dengan usaha Anda, Anda tidak bisa melakukan lebih baik dari pesaing Anda.

  1. PARADIGMA PRODUCER ORIENTED Setiap orang pasti mengelola usahanya sendiri, namun mengelola perusahaan sendiri disini artinya bukan membiarkan Anda menjadi pengusaha yang berparadigma producer oriented. Paradigma producer oriented inilah yang sering menggagalkan banyak usahawan. Kita berpikir apa yang kita pikirkan itu, sudah pasti akan dipikirkan orang lain. Akan tetapi pemikiran kita itu tidak disertai penelitian atau survei pasar, kita mian hantam saja bahkan keras kepala. Produk yang cocok bagi satu orang belum tentu cocok bagi orang lain dan cara melayani konsumen yang satu dengan yang lainnya bisa saja berbeda. Karena itu jangan menjadi pengusaha yang berpikiran producer orientedmelainkan pikirkan apa yang dipikirkan dan diinginkan konsumen atau dibutuhkan konsumen bukan apa yang Anda pikirkan atau inginkan sebagai penjual.

Keseniaan Dalam Memasarkan


 HUKUM-HUKUM DASAR BERBISNIS

Dalam dunia usaha terdapat hukum dasar, tak lain karena dunia usaha ibaratnya sebuah perlombaan. Terdapat aturan-aturan tidak tertulis yang berlaku dan diyakini benar sekali untuk menentukan apakah sebuah perusahaan akan berhasil atau tidak. Unvisibile laws ini jika kita langgar, pasti usaha kita akan gagal. Jangankan melanggar, meski Anda tidak melanggarnya, belum menjadi jaminan kalau Anda bertarung di segmen (tempat) yang sama, Anda akan berhasil.

SIAPA CEPAT DIA DAPAT
Sebuah perusahaan memiliki keunggulan yang tidak kelihatan jika perusahaan tersebut hadir duluan. Jadi sangat sulit mengalahkan mereka yang pertama kali hadir dalam sebuah bisnis. Bukan tidak mungkin tetapi sulit sekali. Mungkin inilah alasannya mengapa senagian dari antara kita gagal membangun usaha karena ada orang lain yang terlebih dahulu terjun kedalamnya sebelum kita.
Pengertian cepat disini adalah mereka yang terlebih dulu terjun kedalam bisnis. Entah itu dalam hal productatau placementProduct merupakan apa yang akan dijual dan di produksi, sedangkan placement merupakan lokasi penjualan dalam kerangka acuan sistem distribusi. Pada kenyataannya, meskipun produk yang kita jual bukanlah produk pertama yang dikenal masyarakat atau yang dihasilkan pertama kali, tetap saja produk tersebut bisa sukses di pasar asal lokasi pemasarannya belum pernah tersentuh produk lain yang sejenis bahkan yang bersifat substitusi. Dengan demikian produk tersebut menjadi produk pertama yang dikenal. Inilah yang dimaksudkan juga dengan siapa yang cepat dia yang dapat. Bukan semata-mata produk yang pertama kali sampai ke sebuah pasar.
Jadi, hukum pertama yang harus diingat baik-baik jika kita ingin berhasil dalam berusaha adalah sebisa mungkin jadilah yang pertama. Sebab dalam kehidupan ini siapa yang cepat pasti dia yang dapat, dan mereka yang cepat akan benar-benar sulit untuk dikalahkan.

MANUSIA MAKHLUK HIDUP YANG CENDERUNG MENIRU
Dalam berbagai kesempatan berwiratsaha, sudah dipastikan kita tidak akan pernah bisa menjadi yang pertama. Kebanyakan dari kita membuka sebuah usaha memang terinspirai oleh kesuksesan usaha yang sama di tempat lain yang barangkali pernah kita dengar, baca, lihat, atau alami sendiri sebagai konsumen. Denagn demikian kita pun berencana terjun ke dunia yang sama. Jarang sekali ada usahawan yang memulainya dengan ide brilian mereka sendiri sejak awal. Kalaupun ada, biasanya campuran dari ide pribadi dan pengalaman yang mereka ketahui atau alami dan itulah unsur inovasi yang kita punya.
 Kenyataan di sekitar kita akhir-akhir ini juga menguatkan asumsi bahwa memang kita mendirikan usaha lebih karena obsesi pernah melihat usaha sejenis yang sukses di tempat lain. Karena itulah kita digempur habis-habisan oleh berbagai tawaran bisnis dalam bentuk franchise. Mulai dari bisnis makanan, minuman, perlengkapan mobil dan rumah tangga, kesehatan, entertainment, hingga perkantoran.

BERANI TAMPIL BEDA
Percuma melakukan apa yang sudah dilakukan orang lain tanpa adanya inovasi. Justru semakin orang bingung dengan ide-ide Anda, justru semakin berpeluang Anda mencetak hal-hal yang spektakuler karena orang lain pasti belum pernah melakukannya. Karenanya jangan putus asa atau kecewa ketika orang justru tidak mengatakan hal-hal yang bagus tetapi malah hal-hal yang jelek. Itu tanda usaha Anda akan berhasil. Tidak berhasil menjadi yang pertama bukanlah masalah, asal Anda bisa tampil beda. Jangan pernah takut meski harus menjadi yang kedua, ketiga, atau yang kedua puluh sekalipun. Istilahnya bukan menjadi yang tercepat.
Untuk berhasil jika bukan yang pertama, kita harus memberikan nilia tambah. Nilai tambah ini mungkin lebih terasa jika diberikan dalam bentuk service sebab ada kemungkinan produk yang kita pasarkan sudah sedemikian rupa sama dari sananya. Contoh nilai tambah ini misalnya jangka waktu kredit yang lebih panjang, harga yang lebih bersaing, pelayanan yang lebih prima, delivery sevice, program-program marketing yang lebih menarik, dan tempat yang lebih nyaman dan menarik. Bisa apa saja sesuai keahlian atau feeling Anda, yang jelas harus berbeda dengan yang diberikan pesaing Anda, tentu dalam kerangka hal-hal yang positif.
Untuk bisa tampil beda ini, minimal kita harus mengetahui apa yang dilakukan oleh para pesaing. Amati semua tingkah laku mereka. Bagaimana mereka melayani, berapa harga yang diberikan, bagaimana dengan diskonnya, siapa saja supplier mereka berapa jumlah tenaga kerja mereka, siapa sales manager mereka, dan sebagainya. Dari data atau informasi tersebut, kita mulai menyusun rencana dan strategi bersaing.

SEMUA PERUSAHAAN MENJUAL
Guru pemasaran Philip Kotler pernah berkata, “Jika marketing kita diibaratkan sebuah gunung es, maka puncak dari gunung es tersebut adalah sales (penjualan)”Marketing memang bukan sales tetapi sales merupakan bagian akhir dari serangkaian strategi marketing. Dan marketing yang baik harus memikirkan bagaimana mencapai sales yang optimal.
Tanpa adanya transaksi penjualan maka sia-sialah strategi marketing yang dijalankan, sebuah perusahaan beroperasi, dan juga sia-sialah kita memikirkan segala hal berkaitan dengan bisnis yang kita jalanin. Darimana perusahaan kita akan membiayai karyawan dan menutup biaya-biaya operasional lainnya, kalau bukan dari penjualan. Jadi betapa pentingnya penjualan ini dan semua unit usaha melakukan penjualan. Tidak ada yang tidak. Ini merupakan hukum yang berlaku di dunia usaha.
Jangan pernah sekali-kali kita mempunyai pandangan bahwa perusahan kita maju atau tetap eksis bukan karena faktor penjualan. Dalam arti kita memandang remeh masalah penjualan ini karena dengan begitu kita meremehkan konsumen, supplier, bahkan pesaing kita. Cukup mudah cara ynag dilakukan masyarakat untuk mematikan sebuah perusahaan yakni dengan membelanjakan uangnya di tempat lain.

SEMUA PERUSAHAAN MEMILIKI PESAING
Kita perlu mempelajari seni menjual dan segala trik-trik yang selalu diciptakan para penjual. Tak lain karena di dunia nyata ini bukan diri kita sendiri yang melakukan penjualan. Ada banyak orang yang melakukan hal yang sama dari para konsumen. Dan persaingan seperti ini bukannya tidak baik melainkan sangat baik untuk semua kalangan. Entah itu untuk pengusaha sehingga mereka bisa terus berinovasi atau konsumen yang akan mendapatkan produk terbaik dengan harga terbaik.
Tapi sayangnya sebagian orang masih memandang pesaing sebagai sosok yang merugikan usaha mereka. Padahal kalau kita mau berpikir lebih dewasa, justru adanya pesaing inilah kita bisa mancapai tingkat operasional usaha sedemikian rupa. Atau bagi perusahaan yang beroperasi belum sempurna bisa bercermin dari perusahaan lainnya yang lebih mapan.
Beberapa BUMN yang dikuasai pemerintah yang melakukan praktik monopoli pun memiliki pesaing atau produk substitusi.

TERSENYUMLAH
Senyum itu penting dan bukan hanya penting di saat menjual. Dalam kehidupan yang penuh tekanan seperti saat ini, senyum bisa menjadi penyejuk yang menutup atau menjembatani jurang dari semua kesalahan, kemarahan, kecurigaan, dan prasangka yang buruk. Dengan hanya melemparkan sebuah senyum maka dunia akan terasa lebih indah. Tetapi sayangnya tidak semua orang tahu bagaimana caranya untuk tersenyum secara wajar, apalagi di tegah dunia yang begitu kasar dan unhelpful ini.
Milikilah sikap santai dan lemparkan apa adanya. Yang pasti senyuman yang berpura-pura atau ikhlas akan terlihat sedemikian rupa oleh orang lain. Dengan senyuman yang ikhlas niscaya jalan untuk merangkai bisnis akan terasa begitu mudah dengan sendirinya.

GAGAL BUKANLAH AKHIR SEGALANYA MELAINKAN MASALAH BIASA
Kegagalan itu hal yang biasa. Ada yang berhasil pasti ada yang gagal. Sebab tidak semua orang akan berhasil! Kalau semua orang berhasil maka tentu tidak akan ada yang gagal. Jadi kalau tidak ada yang gagal berarti tidak akan ada yang berhasil.
Kata orang kegagalan adalah sukses yang tertunda. Kegagalan baru disebut kegagalan jika kita tidak mendapatkan manfaat atau pelajaran apapun. “Anda tidak akan gagal ketika Anda mempelajari sesuatu dari kegagalan itu”, begitu kata Billi P.S. Lim.            
“ Manusia belajar dari kegagalan bukan dari kesuksesan”, kata Thomas Alfa Edison. Ketika kita gagal menjual, kita akan tahu banyak hal dan belajar banyak hal. Justru orang yang dari awal takut gagal maka mereka bisa saja gagal. Alasannya karena mereka ragu-ragu dan tidak berani bertindak apa-apa. Dalam dunia bisnis tidak boleh ada kata ragu. Takut merupakan hal yang biasa, misalnya takut modal tidak kembali dan sebagainya. Tetapi kalau sudah takut gagal itu justru tidak biasa. Kegagalan itu hal yang sangat wajar sekali. Jadi jangan pernah menyerah. Kegagalan akan menunjukkan kepada kita bagaimana harus bertindak di masa akan datang.

Bisnis Keluarga Pilar Penting bagi Perekonomian Asia

 Hasil riset Credit Suisse Emerging Markets Research Institute atas 3.568 bisnis keluarga di 10 negara di Asia, memperlihatkan bisnis keluarga menguasai 50 persen dari semua perusahaan yang terdaftar. Bisnis keluarga ini menguasai 32 persen dari total sumber dana di pasar modal.
Hasil riset yang diumumkan Senin (31/10/2011), menyebutkan bahwa bisnis keluarga merupakan sumber penting bagi penciptaan kekayaan pribadi di Asia. Kondisi ini menekankan bahkan bisnis keluarga menjadi pilar penting bagi perekonomian regional.
Dari riset juga ditemukan bahwa 57 persen dari jumlah keseluruhan karyawan perusahaan terdaftar di Asia Selatan dan 32 persen karyawan di Asia Utara bergabung dalam bisnis keluarga ini.
Riset ini juga mengemukakan, tahap siklus awal dari perkembangan bisnis keluarga Asia ini menyokong pertumbuhan ekonomi di 10 negara Asia tadi. Bisnis keluarga ini juga memberi total laba kumulatif sebesar 261 persen dan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 13,7 persen selama periode 2010/2011.
Kegiatan Bisnis keluarga di China, Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan, memiliki kinerja tertinggi dalam jumlah laba dibandingkan Standar laba yang ada selama periode tersebut. Disebutkan juga, saham bisnis keluarga di Indonesia mempunyai kinerja terbaik dari kesepuluh negara tersebut.
Helman Sitohang, CEO Credit Suisse Asia Tenggara mengatakan, analisis mengenai Bisnis Keluarga Asia ini merupakan seri terbaru dari rangkaian thought leadership Credit Suisse yang bertemakan bisnis keluarga global. "Studi mengenai bisnis keluarga Asia yang pertama ini menjadi landasan dari apa yang kami cita-citakan akan menjadi inisiatif bagi penelitian tematik berkala guna mengkaji tantangan dan kesempatan utama bagi perkembangan bisnis keluarga Asia di masa yang akan datang," katanya.

Bentuk Dasar Kepemilikan Bisnis


Meskipun bentuk kepemilikan bisnis berbeda-beda pada setiap negara, ada beberapa bentuk yang dianggap umum:
  • Perusahaan perseorangan: Perusahaan perseorangan adalah bisnis yang kepemilikannya dipegang oleh satu orang. Pemilik perusahaan perseorangan memiliki tanggung jawab tak terbatas atas harta perusahaan. Artinya, apabila bisnis mengalami kerugian, pemilik lah yang harus menanggung seluruh kerugian itu.
  • Persekutuan: Persekutuan adalah bentuk bisnis dimana dua orang atau lebih bekerja sama mengoperasikan perusahaan untuk mendapatkan profit. Sama seperti perusahaan perseorangan, setiap sekutu (anggota persekutuan) memiliki tanggung jawab tak terbatas atas harta perusahaan. Persekutuan dapat dikelompokkan menjadi persekutuan komanditer dan firma.
  • Perseroan: Perseroan adalah bisnis yang kepemilikannya dipegang oleh beberapa orang dan diawasi oleh dewan direktur. Setiap pemilik memiliki tanggung jawab yang terbatas atas harta perusahaan.
  • Koperasi: adalah bisnis yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi bertujuan untuk menyejahterakan anggotanya. Karateristik utama koperasi yang membedakan dengan badan usaha lain adalah anggota koperasi memiliki identitas ganda. Identitas ganda maksudnya anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.

Bisnis


Dalam ilmu ekonomibisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti "sibuk" dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.
Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapitalyang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja.
Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata "bisnis" sendiri memiliki tiga penggunaan, tergantung skupnya — penggunaan singular kata bisnis dapat merujuk padabadan usaha, yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya "bisnis pertelevisian." Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa. Meskipun demikian, definisi "bisnis" yang tepat masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini.

Klasifikasi Bisnis

Bisnis terdiri dari berbagai macam tipe, dan, sebagai akibatnya, bisnis dapat dikelompokkan dengan cara yang berbeda-beda. Satu dari banyak cara yang dapat digunakan adalah dengan mengelompokkan bisnis berdasarkan aktivitas yang dilakukannya dalam menghasilkan keuntungan.
  • Manufaktur adalah bisnis yang memproduksi produk yang berasal dari barang mentahatau komponen-komponen, kemudian dijual untuk mendapatkan keuntungan. Contoh manufaktur adalah perusahaan yang memproduksi barang fisik seperti mobil atau pipa.
  • Bisnis jasa adalah bisnis yang menghasilkan barang intangible, dan mendapatkan keuntungan dengan cara meminta bayaran atas jasa yang mereka berikan. Contoh bisnis jasa adalah konsultan dan psikolog.
  • Pengecer dan distributor adalah pihak yang berperan sebagai perantara barang antara produsen dengan konsumen. Kebanyakan toko dan perusahaan yang berorientasi-konsumen adalah distributor atau pengecer. lihat pula: Waralaba
  • Bisnis pertanian dan pertambangan adalah bisnis yang memproduksi barang-barang mentah, seperti tanaman atau mineral tambang.
  • Bisnis finansial adalah bisnis yang mendapatkan keuntungan dari investasi dan pengelolaan modal.
  • Bisnis informasi adalah bisnis menghasilkan keuntungan terutama dari pejualan-kembali properti intelektual (intelellectual property).
  • Utilitas adalah bisnis yang mengoperasikan jasa untuk publik, seperti listrik dan air, dan biasanya didanai oleh pemerintah.
  • Bisnis real estate adalah bisnis yang menghasilkan keuntungan dengan cara menjual, menyewakan, dan mengembangkan properti, rumah, dan bangunan.
  • Bisnis transportasi adalah bisnis yang mendapatkan keuntungan dengan cara mengantarkan barang atau individu dari sebuah lokasi ke lokasi yang lain.

Orientasi Dalam Bisnis Waralaba



Bisnis Waralaba, Jika Anda memiliki sedikit dana lebih, tidak ada salahnya mencoba membangun usaha sampingan bisnis waralaba (franchise).

Untuk para pemula yg ingin terjun menekuni bisnis, baik sebagai usaha sampingan ataupun berniat wirausaha murni, waralaba suatu pilihan yg menarik. Mengapa demikian? Karena dalam bisnis waralaba, panduan serta sistem bisnisnya sudah ada dan jelas sehingga pebisnis tidak perlu lagi merancang atau membuat sistem baru yg belum terbuki keberhasilannya.

Walaupun tidak menutup kemungkinan dalam bisnis ini pun pebisnis dapat membuat beberapa modifikasi untuk kemajuan usahanya. Berbisnis waralaba memang terdengar sangat menyenangkan dan mudah. Namun jangan salah, sama seperti bisnis lainnya, siapa pun yg terjun ke dalam bisnis ini harus mempunyai komitmen penuh untuk merencanakan dan menerapkan sistem manajemen yg benar dan terarah. Karena pada prinsipnya setiap prinsip membutuhkan kerja keras, tak terkecuali bisnis waralaba.
Dalam memilih waralaba mana yg akan Anda ambil, sebaiknya Anda memerhatikan beberapa hal berikut ini.

  • Anda harus dapat mengumpulkan dan mengidentifikasi sebanyak mungkin informasi mengenai pewaralaba dan pengalaman bisnisnya. Misalnya, kondisi keuangan, riwayat hidup pemilik waralaba, dan proses perjalanan usahanya.
  • Anda harus betul-betul paham dgn agreement atau kontrak waralaba tersebut. Jangan sampai isi kontrak tersebut merugikan Anda di kemudian hari.
  • Anda harus dapat menganalisis lokasi dan biaya dari waralab tersebut. Mengapa? Karena lokasi akan berperan penting untuk berhubungan dgn pelanggan.
  • Anda juga harus memperhatikan pasokan bahan baku dan sejenisnya. Karena hal ini akan menjadi sangat vital. Jika pewaralaba tidak profesional dalam mendistribusikannya, maka hal ini akan berimbas pada layanan kepada pelanggan.
Jika Anda memang telah memutuskan untuk terjun ke dalam bisnis waralaba, ada beberapa hal yg harus diperhatikan untuk kesuksesan usaha waralaba Anda.
·              Pilihlah jenis waralaba yg sesuai dgn keinginan dan minat Anda dan prospek bisnis waralaba tersebut.
·            Canangkan tujuan ber bisnis waralaba dan Sesuaikan pula tujuan tersebut dgn kebijakan jangka pendek yg Anda ambil.
·        Gali informasi sebanyak-banyaknya dari pewaralaba pada setiap kesempatan, naik pelatihan maupun pertemuan.
·              Kerjakanlah segala sesuatunya dgn efisien.
·              Binalah hubungan baik dan pertahankan kontak yg intensif dgn pihak yg terlebih dahulu sukses di bidang ini.
·              Selalu jujur dan pertahankan reputasi Anda.
·              Galilah terus potensi dan kreativitas Anda.
·              Berorientasi pada konsumen dalam arti fokus pada kepuasan konsumen.
·              Tetaplah bersemangat dan terus mengembangkan diri untuk mencapai tujuan hidup.

Disamping itu, ada beberapa hal juga yg harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi yakni kepadatan penduduk, penghasilan penduduknya, jumlah usaha, tempat, dan traffic.